Tampil Gaul dan Trendy dengan Tas Backpack

Sudah menjadi hal yang umum di kalangan remaja, terutama pelajar, bepergian dengan menggunakan tas backpack / ransel.

Selain mudah digunakan, tas backpack juga bisa memuat barang serta memudahkan kita berpindah tempat sambil membawa barang-barang.

Apabila kita memperhatikan sekeliling, banyak gaya yang digunakan remaja saat menggunakan tas backpacknya, antara lain :

  • Cara Tradisional

Cara tradisional saat memakai backpack yaitu menggendong dengan dua tali. Backpack memang dirancang untuk dipakai dengan dua tali sehingga beban yang disandang terpencar di kedua bahu dan mengurangi kelelahan akibat mengangkat beban yang berat. Selain itu, cara menggendong seperti ini bisa membuat postur tubuh kita menjadi lebih tegap, terutama dengan pengaturan beban dan panjang tali yang tepat. Cara ini lebih nyaman digunakan meskipun beban di dalam backpack lumayan berat. Dengan cara menggendong seperti ini, tangan kita bebas bergerak untuk melakukan hal lain. Baca lebih lanjut

UNTUK DIRENUNGKAN: Kisah Kejujuran Dua Bocah Penjual Tissue di Pinggir Jalan

Anak2 yg sudah sangat jarang kita temui di zaman sekarang. Cerita yang benar2 menggugah kesadaran akan sesama. Mohon izin reblog ya..

Kisah Inspiratif Islam

Kejujuran sebuah kata yang sangat sederhana tapi sekarang menjadi barang langka dan sangat mahal harganya. Memang ketika kita merasa senang dan segalanya berjalan lancar, mengamalkan kejujuran secara konsisten tidaklah sulit, tetapi pada saat sebuah nilai kejujuran yang kita pegang berbenturan dengan perasaan, kita mulai tergoncang apakah tetap memegangnya, atau kita biarkan tergilas oleh keadaan. Sebuah kisah kejujuran yang sangat menyentuh hati, dua orang anak kecil menjajakan tisu di pinggir jalan. Membuat kita mesti belajar banyak tentang arti sebuah kejujuran.

dua manusia super

Siang ini, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka makhluk-makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberangan Setia Budi, dua sosok kecil berumur kira-kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan…

Lihat pos aslinya 692 kata lagi

3 Cara Memulihkan Energi Kreatifmu (Ketika Pekerjaanmu Menyedot Semua Energi)

Barusan dapat artikel dari thecourage2create.com punyanya Ollin Morales tentang Pemulihan Energi Kreatifitas. Untuk versi aslinya bisa di cek di link berikut:

3 Ways To Restore Your Creative Energy (When Your Day Job Has Sucked Every Last Drop Of It)

Bagi yang kurang mengerti (atau tidak mengerti sama sekali), saya coba terjemahkan.

3 Cara Memulihkan Energi Kreatifmu (Ketika Pekerjaanmu Menyedot Semua Energi).

Jujurlah, banyak dari kita tidak punya kemewahan untuk menjadi kreatif sepanjang hari, sepanjang minggu dan sepanjang tahun. Kebanyakan dari kita, sebagian besar punya pekerjaan sampingan untuk rumah dan membayar tagihan.

Tapi kita sadar bahwa pekerjaan sampingan yang seharusnya membantu menambah penghasilan dan memberikan waktu luang bebas stres untuk menekuni kegemaran kita, ternyata malah menguras seluruh kreatifitas kita sehingga tak ada lagi yang tersisa untuk hal-hal yang kita minati.

Saya telah menemukan solusi untuk masalah ini, dan seperti biasanya kapanpun saya berhasil mengatasi suatu rintangan saya mau berbagi pada Anda, supaya Anda juga bisa mengatasi tantangan ini.

3 Cara Memulihkan Energi Kreatifmu

(Ketika Pekerjaanmu Menyedot Semua Energi)

1. Pelajari Bagaimana Mengatur Energimu dengan Lebih Baik

Baru-baru ini saya sibuk berpikir tentang energi dan betapa berharganya energi itu. Napeleon Hill, salah satu pakar self-help yang pertama, dan pengarang Thing and Grow Rich, mengatakan bahwa apabila kamu ingin mewujudkan impianmu, kami harus menggunakan seluruh energimu untuk tugas dan aktifitas yang akan membantu mengembangkan manifestasi impianmu, dan berikan nol energi pada tugas-tugas yang tidak membantumu mewujudkan impian itu.

Ini adalah suatu pernyataan yang dahsyat jika Anda memikirkannya, karena jika kita benar-benar menilai energi kita dalam konteks apakah membantu mencapai impian atau tidak, maka banyak dari kita akan menyadari bahwa kita membuang-buang banyak energi pada kegiatan yang tidak berguna, atau terperangkap dalam drama konyol dengan orang asing, anggota keluarga, atau teman, padahal energi itu bisa digunakan untuk mewujudkan impian kita.

Inilah kenapa langkah pertama untuk mendapatkan kembali energi kreatif (ketika pekerjaan sampingan kita menyedot seluruh energi) adalah dengan memperhatikan dengan baik pada energi yang kita habiskan setelah bekerja dan menyadari bagaimana cara kita menghabiskannya pada hal-hal yang tidak pantas dilakukan.

Misalnya, apakah kita menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengusir tetangga yang menyebalkan dari kompleks apartemen? Atau kita menghabiskan berhari-hari membayangkan apa yang sedang dipikirkan mantan pacar yang sudah punya kekasih lain? Apakah kita menghabiskan berjam-jam menonton berita tentang bencana alam, krisis kemanusiaan, konflik negara tetangga, pembunuhan, penembakan masal, skandal politik, krisis palsu selebritis (apakah foto bugil yang tersebar perlu disebarkan secara internasional? Ayolah), berita ini, berita itu dan apakah obsesi kita pada berita membantu kita meredakan keadaan, atau cuma sekadar menakuti, membuat marah dan depresi pada keadaan, hanya memperburuk keadaan dan tidak membantu sama sekali?

Kenyataannya, energi kita tidaklah keramat karena dia terbatas. Hadapilah, kita sering mencurahkan energi kita pada pekerjaan sampingan karena kita benar-benar perlu membayar tagihan dan ini sangat bisa dimengerti.

Tapi haruskah kita energi “pasca-bekerja” pada hal-hal yang tidak membantu kita mengembangkan kegemaran kita? Bukankah kita selalu dengan hati-hati dan teliti mengatur setiap tetes energi kita supaya kita yakin bahwa seluruh waktu luang kita didedikasikan pada hal-hal yang akan meningkatkan kebahagiaan kita dan bukan sebaliknya?

Apa yang bisa membantu untuk mencapai tujuan kita setelah pulang bekerja :

  • Satu jam berita kabel atau satu jam dengan terapis yang bisa membantu menenangkan kita dengan perhatiannya?
  • Menghabiskan waktu terobsesi dengan teman baik yang menusuk dari belakang atau beberapa waktu luang untuk sholat atau meditasi, fokus pada orang-orang yang selalu menghormatimu dalam hidup?
  • Tertekan oleh situasi pekerjaan yang tak bisa ditangani sampai besok pagi, atau bermain tenis dengan anak-anakmu, dan selanjutnya mendengarkan masalahnya hari ini dan menawarinya cinta dan dukunganmu?

Jika kita tidak berhati-hati mengatur energi kita dan menghabiskannya pada hal-hal yang tidak perlu, suatu saat kita akan benar-benar kosong dan tidak bisa melakukan kegiatan kreatif yang kita cintai dan hargai.

2. Jika Anda Sudah Dalam Kecepatan 100 MPH (sekitar 160 km/jam), Jangan Injak Gas Lagi, Injak Rem.

Dalam mempelajari bagaimana mengatur energi kreatif saya, saya selalu membuat kesalahan klasik yang dibuat semua orang, bukannya mengerem setelah saya menyelesaikan pekerjaan, saya malah menginjak gas lebih kencang.

Yang saya maksud dengan ini adalah alih-alih menyadari permintaan pikiran untuk beristirahat dan relaks setelah hari yang panjang, saya masih saja mendorong diri sendiri untuk kreatif, meskipun saya tau bahwa pikiran saya kelelahan. Saya melakukannya karena banyak blogger dan “ahli” merekomendasikannya. Para ahli itu selalu mengatakan :

“Jika Anda punya pekerjaan, dorong diri anda dengan penuh semangat dan terus dorong meskipun Anda kelelahan, karena itu satu-satunya cara Anda mencapai impian.”

Saya tahu banyak yang tidak setuju dengan saya, tapi saya yakin bahwa pendekatan seperti ini dalam gaya hidup kreatif sangat tidak menyehatkan bagi kita dan ini mungkin yang menjadi alasan kenapa banyak dari kita tidak dapat mewujudkan impiannya.

Saya mencoba pendekatan ini sendiri beberapa waktu dan saya nyatakan dengan tegas bahwa hal itu tidak memberikan energi sama sekali pada kreativitas. Malah sebaliknya, ini membuat kita semakin membenci usaha untuk kreatif karena kita merasa impian kita meminta lebih banyak daripada yang bisa kita tangani.

Dan kita benar berdasarkan insting itu.

Ini yang saya maksud dengan “mengerem” setelah pulang bekerja. Maksud saya Anda seharusnya jangan melakukan apa-apa beberapa saat setelah bekerja. Pikiran Anda perlu saat-saat tanpa berdiam diri. Dia tidak perlu didorong sampai batasnya yang bisa menyebabkan anda habis, kelelahan dan jengkel.

Terakhir, Anda juga perlu beristirahat lebih lama : saya berbicara tentang sehari, seminggu atau mungkin sebulan saat Anda menunda proyek kreatif Anda untuk bisa mengisi kembali kreativitas Anda.

Ketika Anda kembali berhasrat dan bersemangat untuk menjadi kreatif saat itulah Anda tahu bahwa Anda telah memberikan istirahat yang cukup bagi pikiran Anda.

3. Jangan Menurunkan Kreativitas Anda pada Waktu-waktu Tertentu

Setiap kali saya mulai bekerja sejak dua tahun yang lalu, saya merasa sangat bersalah karena saya tidak menghabiskan waktu pada novel saya sebanyak dulu. Pekerjaanku dalam proses, pada satu sisi berkembang secepat kilat, namun sekarang melambat, inci demi inci dan penyelesaiannya tidak terlihat sama sekali.

Energi kreatif yang biasa saya gunakan hampir menguap, dan beberapa waktu yang bisa saya tambahkan dalam pengembangannya terlihat seperti “setetes air dalam ember” dibanding dengan hujan lebat yang bisa saya lepaskan dulu.

Hal ini membuat saya membayangkan siapa diri saya sekarang :

Apakah saya mengerdil seiring waktu? Di mana energi kreatif yang bisa saya dedikasikan pada impian saya lebih terbatas daripada yang saya inginkan? Atau saya melihat dari saya lebih dari sudut pandang yang lebih “panoramik”? Tidak melihat diri saya sebagai “orang kreatif yang tidak bertanggungjawab”, tapi sebagai orang kreatif yang selalu berusaha keras di setiap kesempatan? Seseorang yang bisa bekerja dengan baik saat bisa berdedikasi dan saat yang lain hanya bisa mendedikasikan sedikit energinya?

Apakah kesuksesan hidup kita diukur dari bagaimana kelelahan dan habisnya energi kita saat akhir minggu? Ataukah ini hanya gagasan palsu? Gagasan yang bersumber dari adat Amerika yang kehilangan arah dan sekarang percaya bahwa workaholik seharusnya menjadi normal yang baru, dan tidak bisa melihat seseorang menjadi “sukses” atau “bekerjakeras” kecuali orang tersebut bermata sembab, kelelahan dan secara konstan ketakutan dengan semua tekanan dan kegelihan dunia?

Saya memilih untuk menepis trend tidak sehat ini. Saya memilih untuk menghormati energi kreatif saya. Saya memilih mempercayai intuisi saya ketika dia bilang untuk beristirahat bukannya menginjak gas lebih kencang. Saya memilih untuk menghindari mendorong diri saya lebih dari kapasitas saya, dan saya memilih untuk tidak menyiksa diri saya dengan rasa bersalah karena saya bukan manusia super.

Saya memilih untuk menetapkan batasan.

Saya memilih untuk menciptakan dunia di mana kita melihat kesuksesan kita bukan dari habisnya kita di akhir minggu, tapi bagaimana kita mengisi ulang energi sehingga, di akhir hidup kita, kita telah mencapai sesuatu yang utuh, bukannya pecahan-pecahan.

 

Banjarbaru, 20 Agustus 2014

13.01

Siang hari yang panas disamping istri yang tertidur akibat pulang dinas malam.

Terjemahannya lebih kepada bagaimana mengatasi kelelahan sehabis kerja sambilan (day job), tapi menurut saya artikel ini bagus, karena bisa diterapkan secara umum bagi banyak orang. Maaf bila ada ketidaksesuaian dalam penerjemahan.

Dilema Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Langsung atau Tidak Langsung

Dunia pemerintahan Indonesia sekali lagi menghadapi permasalahan pelik yang menyangkut sistem dasar dari penyelenggaraan pemerintahan. DPR RI saat ini sedang membahas Rancangan Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (RUU Pilkada). Dalam RUU tersebut, sedang dibahas bagaimana seharusnya Kepala Daerah (Gubernur, Bupati dan Walikota) dipilih, apakah melalui Pilkada langsung (dipilih oleh rakyat) atau dengan Pilkada tidak langsung (dipilih oleh DPRD sebagai wakil rakyat). Pun di dalam DPR RI sendiri sekarang terpecah pendapat antara dua kubu, yaitu kubu yang mendukung Pilkada langsung, didominasi oleh fraksi pendukung Jokowi pada Pemilu kemarin (PDIP, PKB, dan Hanura) dengan pendukung Pilkada tidak langsung, yaitu kubu koalisi Merah Putih (Gerindra, PKS, PAN, Golkar dan PPP) dan Partai Demokrat. Belakangan Partai Demokrat mengubah haluan dengan mendukung Pilkada langsung.

Dari dua kubu di atas saja, dapat dilihat pertentangan politik yang terjadi masih membawa pertentangan pelaksanaan Pemilu Presiden. Koalisi Merah Putih yang pada saat ini sebagai pihak yang kalah jelas mendukung pelaksanaan Pilkada tidak langsung, karena sudah kalah pada Pilkada langsung, begitupun sebaliknya pada kubu Jokowi yang telah memenangkan Pilkada langsung jelas mendukung Pilkada langsung. Memang Pilkada langsung maupun tidak langsung memiliki keuntungan dan kelebihan masing-masing. Akan tetapi, masing-masing tetap saja merupakan ajang perebutan kekuasaan dari pihak-pihak pemegang kekuasaan atau politik.

Menanggapi artikel Pilkada Langsung atau Tidak Langsung, No Problem! dari Bapak Rinaldi Munir, saya juga setuju bahwa pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah langsung maupun tidak langsung tidak masalah. Akan tetapi, yang perlu diperbaiki oleh para petinggi negara bukanlah sistem mana yang akan digunakan, akan tetapi bagaimana sistem penyelenggaraan yang bisa dengan efektif menghasilkan Kepala Daerah berkualitas, pro rakyat dan dapat dipercaya.

Negara kita sebagai negara demokrasi memiliki beberapa level pemerintahan, Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, Kelurahan/Desa, bahkan RT dan RW. Dari sekian banyak pemimpin di level-level bawah tersebut, bisa saya katakan bahwa sangat banyak orang yang menjadi “elit pemerintahan”. Selama ini pemilihan kepala daerah hanya diikuti oleh anggota partai politik yang notabene adalah para pencari kekuasaan semata, dengan pengalaman di pemerintahan yang sangat minim. Elit-elit politik yang ada memang banyak juga yang berasal dari akademisi, akan tetapi banyak juga yang dari pengusaha bahkan orang yang tidak dikenal dan hanya ingin mendapatkan kekuasaan.

Yang saya soroti di sini adalah peranan partai politik itu sendiri. Kader-kader partai politik itu merupakan orang-orang yang berasal dari bermacam latar belakang, dengan tujuan mencari kekuasaan. Saya bertanya-tanya berapa banyak kader partai yang benar-benar merupakan orang yang dikenal oleh masyarakat dan benar-benar (maksud saya dengan tulus) ingin mengemban inspirasi masyarakat. Banyak kader partai yang berasal dari pengusaha bahkan artis, jadi tidak salah juga apabila saya berpendapat mereka hanya mengejar kekuasaan dan materi. Dengan fungsi partai politik, seharusnya partai politik hanya memperebutkan kekuasaan di DPR dan DPRD yang memang tempatnya orang-orang berpolitik.

Beda lagi dengan Pemilihan Kepala Daerah yang memasuki ranah pemerintahan. Saya memang tidak bisa melarang begitu saja keterlibatan parpol dalam pilkada, akan tetapi alangkah bagusnya apabila calon-calon kepala daerah merupakan “elit pemerintahan” yang memiliki rekam jejak jelas dalam kepemimpinan pemerintahan atau organisasi lain. Menurut saya, calon yang ditawarkan oleh partai politik seharusnya orang-orang yang pernah memimpin suatu instansi atau organisasi pemerintahan. Selama ini calon-calon yang muncul adalah orang-orang yang tidak terlalu dikenali masyarakat, bahkan baru terkenal saat pelaksanaan Pilkada. Bagaimana kita memilih calon pemimpin apabila orang tersebut saja baru kita kenali.

Secara pribadi saya ingin apabila yang menjadi pimpinan daerah merupakan pimpinan daerah di level bawahnya. Misalnya dalam pemilihan lurah yang berpartisipasi adalah para ketua RT, atau pemilihan Bupati/Walikota dimasuki oleh Camat-camat yang ada. Hal ini akan menghindari adanya politik uang, karena para camat tentu saja telah percaya diri dengan penerimaan masyarakat pada mereka dan kampanye pun akan lebih mudah karena masyarakat telah mengenal calonnya dengan baik, dengan rekam jejak yang jelas dan kinerja yang sudah dikenali. Atau paling tidak, partai politik dapat mengusung calon-calon dari kepala daerah tersebut. Sebenarnya pasti banyak sekali Kepala Daerah, terutama Lurah dan Camat yang berkeinginan untuk mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Akan tetapi sistem yang ada secara halus mengisyaratkan bahwa kampanya harus mengorbankan uang yang besar, yang notabenenya tidak mungkin bisa dimiliki oleh Lurah dan Camat sebagai PNS dalam waktu cepat, kecuali Lurah dan Camat tersebut juga merupakan pengusaha sebagai usaha sampingannya.

Pada intinya, saya mendukung sistem pemilihan apapun, akan tetapi bukan sistem yang ada sekarang. Pemilihan langsung maupun tidak langsung jelas tidak masalah sama sekali, asalkan bukan sistem pemilihan yang diterapkan Indonesia sekarang ini. Sistem Pemerintahan kita, terutama sistem pemilihan kepala daerah harus dirombak total dengan sebuah sistem yang lebih mengedepankan orang-orang profesional dalam pemerintahan, bukan orang-orang pengejar kekuasaan semata. Sistem yang tidak mencampurkan politik dengan pemerintahan sehingga kemaslahatan masyarakat benar-benar terjaga dengan baik.

Banjarbaru, 10 September 2014

06.48 WITA

Ditemani udara berkabut dan secangkir kopi.

Urgensi Standar Operasional Prosedur dalam Administrasi Pemerintahan

Keadaan Pemerintah Indonesia sekarang ini mulai memasuki situasi yang memprihatinkan. Kenyataan bahwa banyak pejabat negara dan anggota DPR/DPRD yang notabene merupakan wakil rakyat melakukan tindak korupsi, sangat memprihatinkan bagi kita semua. Berbagai upaya pencegahan yang terus dilakukan seakan-akan tidak mampu menghapus tindakan-tindakan yang merugikan negara tersebut. Parahnya lagi, di kalangan para penegak hukum, penyidik, kejaksaan dan pemeriksa malah ikut-ikutan tersandung masalah korupsi atau penyalahgunaan wewenang. Hal ini berdampak sangat buruk, baik bagi pemerintahan maupun bagi masyarakat. Para pejabat negara yang dijadikan masyarakat sebagai contoh, publik figur yang terlihat berkinerja baik dan mendukung rakyat, ternyata hanya menjadikan sikapnya tersebut sebagai pendongkrak popularitas. Dengan banyaknya kasus tersebut, maka menjadi suatu urgensi untuk menyusun Standar Operasional Prosedur sebagai salah satu alat dalam perbaikan pelayanan kepada masyarakat dan pemberantasan korupsi di Indonesia.

Standar Operasional Prosedur merupakan serangkaian instruksi tertulis yang dibakukan mengenai berbagai proses penyelenggaraan aktivitas
organisasi, bagaimana dan kapan harus dilakukan, dimana dan oleh siapa dilakukan. Dengan SOP ini, seluruh kegiatan yang dilakukan oleh institusi pemerintahan akan memiliki standar pelaksanaan, waktu dan pelaksananya. Ketika terjadi ketidakberesan dalam pelaksanaan pekerjaan, dengan mudah akan segera diketahui siapa atau waktu penyebabnya. Selain itu, dengan adanya SOP, urutan kerja, beban kerja dan kualitas pelaksana bisa diidentifikasikan secara nyata sehingga kinerja perorangan dapat dikawal. Apabila ada pelaksanaan kegiatan atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan SOP, maka bisa kita katakan bahwa orang tersebut bekerja tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Sayangnya, kesadaran untuk membakukan prosedur kegiatan di kalangan instansi pemerintahan masih kurang. Masih banyak yang mengira bahwa Standar Operasional Prosedur hanya ditujukan kepada instansi pelayanan. Hal ini memang benar, karena pada awalnya SOP diprioritaskan pembuatannya kepada Instansi Pelayanan Publik untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat yang memang dijadikan prioritas dalam Reformasi Birokrasi. Akan tetapi, SOP disusun untuk menjadi alat dalam membuat suatu standar dalam pelaksanaan pemerintahan, baik yang bersifat pelayanan/teknis maupun yang bersifat administratif, karena di dalam instansi pemerintahan lebih banyak kegiatan yang sifatnya administratif. Sehingga pada perkembangannya, istilah Standar Operasional Prosedur Administrasi Pemerintahan menjadi istilah umum untuk menyebutkan seluruh Standar Operasional Prosedur yang melibatkan organisasi pemerintahan.

Bagi Instansi pemerintahan, baik dinas, badan, kantor, atau instansi lain, Standar Operasional Prosedur sangat diperlukan untuk melindungi dalam pelaksanaan pekerjaan. Dalam kasus-kasus korupsi yang ada selama ini, apabila seorang tersangka ditetapkan, biasanya selalu menjalar pada pihak lain yang terlibat, meskipun tidak semua pihak tersebut benar-benar bersalah dan hanya menjadi korban dari pihak tersangka saja. Dengan adanya Standar Operasional Prosedur yang sudah resmi, maka tiap-tiap pihak yang memang melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan ketentuan, tentu saja akan lepas dari tuduhan, selama memang pihak tersebut hanya korban dari pihak lain, karena uraian instruksi pekerjaan yang ada di SOP akan memberikan kejelasan siapa saja yang telah melaksanakan pekerjaan dengan baik atau tidak. Banyaknya manfaat yang bisa didapatkan dengan menetapkan Standar Operasional Prosedur, sebaiknya seluruh instansi pemerintahan dengan segera menyusun SOP-nya agar standar pelaksanaan pekerjaan segera ditetapkan.

Mengenai jenis-jenis SOP dan teknik penyusunan SOP dapat dilihat pada artikel berikut :

  1. Standar Operasional Prosedur Administrasi Pemerintahan (SOP-AP)
  2. Tutorial Penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP)